BAB I
PENDAHULUAN
Seorang petinggi,
orang yang mau terjun ke bawah secara langsung, orang yang tau kondisi
keberadaan di lapangan, mungkin itu beberapa karakter yang harus di miliki oleh
seorang pemimpin. Makna dari arti suatu kata Kepemimpinan adalah proses
memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya
mencapai tujuan organisasi. Cara alamiah
mempelajari kepemimpinan adalah "melakukannya dalam kerja" dengan
praktik seperti pemagangan pada seorang seniman ahli, pengrajin, atau praktisi.
Dalam hubungan ini sang ahli diharapkan sebagai bagian dari peranya memberikan
pengajaran/instruksi.
BAB II
TEORI
Kebanyakan
orang masih cenderung mengatakan bahwa pemimipin yang efektif mempunyai sifat
atau ciri-ciri tertentu yang sangat penting misalnya, kharisma, pandangan ke
depan, daya persuasi, dan intensitas. Dan memang, apabila kita berpikir tentang
pemimpin yang heroik seperti Napoleon, Washington, Lincoln, Churcill, Sukarno,
Jenderal Sudirman, dan sebagainya kita harus mengakui bahwa sifat-sifat seperti
itu melekat pada diri mereka dan telah mereka manfaatkan untuk mencapai tujuan
yang mereka inginkan. Ada beberapa tipe tipe kepemimpinan yaitu :
1 Kepemimpinan Yang Efektif
2 Kepemimpinan Karismatik
3 Kepeimimpinan Transformasional
Kepemimpinan Yang Efektif
Barangkali
pandangan pesimistis tentang keahlian-keahlian kepemimpinan ini telah
menyebabkan munculnya ratusan buku yang membahas kepemimpinan.Terdapat nasihat
tentang siapa yang harus ditiru (Attila the Hun), apa yang harus diraih
(kedamaian jiwa), apa yang harus dipelajari (kegagalan), apa yang harus
diperjuangkan (karisma), perlu tidaknya pendelegasian (kadang-kadang), perlu
tidaknya berkolaborasi (mungkin), pemimpin-pemimpin rahasia Amerika (wanita),
kualitas-kualitas pribadi dari kepemimpinan (integritas), bagaimana meraih
kredibilitas (bisa dipercaya), bagaimana menjadi pemimipin yang otentik (temukan
pemimpin dalam diri anda), dan sembilan hukum alam kepemimpinan (jangan tanya).Terdapat
lebih dari 3000 buku yang judulnya mengandung kata pemimipin (leader).Bagaimana
menjadi pemimpin yang efektif tidak perlu diulas oleh sebuah buku.Guru manajeman
terkenal, Peter Drucker, menjawabnya hanya dengan beberapa kalimat:
"pondasi dari kepemimpinan yang efektif adalah berpikir berdasar misi
organisasi, mendefinisikannya dan menegakkannya, secara jelas dan nyata.
Kepemimpinan Karismatik
Max Weber,
seorang sosiolog, adalah ilmuan pertama yang membahas kepemimpinan karismatik.Lebih
dari seabad yang lalu, ia mendefinisikan karisma (yang berasal dari bahasa
Yunani yang berarti "anugerah") sebagai "suatu sifat tertentu
dari seseorang, yang membedakan mereka dari orang kebanyakan dan biasanya
dipandang sebagai kemampuan atau kualitas supernatural, manusia super, atau
paling tidak daya-daya istimewa.Kemampuan-kemampuan ini tidak dimiliki oleh
orang biasa, tetapi dianggap sebagai kekuatan yang bersumber dari yang Ilahi,
dan berdasarkan hal ini seseorang kemudian dianggap sebagai seorang pemimpin.
Kepeimimpinan Transformasional
Kepemiminan
merupakan proses dimana seorang individu mempengaruhi sekelompok individu untuk
mencapai suatu tujuan. Untuk menjadi seorang pemimpin yang efektif, seorang
kepala sekolah harus dapat mempengaruhi seluruh warga sekolah yang dipimpinnya
melalui cara-cara yang positif untuk mencapai tujuan pendidikan di sekolah.
Secara sederhana kepemimpinan transformasional dapat diartikan sebagai proses
untuk merubah dan mentransformasikan individu agar mau berubah dan meningkatkan
dirinya, yang didalamnya melibatkan motif dan pemenuhan kebutuhan serta
penghargaan terhadap para bawahan.
Ada
Tiga gaya kepemimpinan yang pokok yaitu gaya
kepemimpinan Otokratis, Demokratis, dan Laissez
faire.
Gaya Kepemimpinan Otokratis
Gaya
kepemimpinan Otokratis ini meletakkan seorang pemimpin sebagai sumber
kebijakan. Pemimpin merupakan segala-galanya. Bawahan dipandang sebagai orang
yang melaksanakan perintah. Oleh karena itu bawahan hanya menerima instruksi
saja dan tidak diperkenankan membantah maupun mengeluarkan ide atau pendapat.
Dalam posisi demikian anggota atau bawahan tidak terlibat dalam soal
keorganisasian. Pada tipe kepemimpinan ini segala sesuatunya ditentukan oleh
pemimpin sehingga keberhasilan organisasi terletak pada pemimpin.
Gaya Kepemimpinan Demokratis
Gaya
kepemimpinan ini memberikan tanggungjawab dan wewenang kepada semua pihak,
sehingga ikut terlibat aktif dalam organisasi, anggota diberi kesempatan untuk
memberikan usul serta saran dan kritik demi kemajuan organisasi. Gaya
kepemimpinan ini memandang bawahan sebagai bagian dari keseluruhan
organisasinya, sehingga mendapat tempat sesuai dengan harkat dan martabatnya
sebagai manusia. Pemimpin mempunyai tanggungjawab dan tugas untuk mengarahkan,
mengontrol dan mengevaluasi serta mengkoordinasi.
Gaya Kepemimpinan Laissez
faire
Pada
prinsipnya gaya kepemimpinan ini memberikan kebebasan mutlak kepada para
bawahan. Semua keputusan dalam pelaksanaan tugas dan pekerjaan diserahkan
sepenuhnya kepada bawahan. Dalam hal ini pemimpin bersifat pasif dan tidak
memberikan contoh-contoh kepemimpinan. (Ngalim Purwanto, 1992:48-50)
Dari beberapa gaya kepemimpinan tersebut akan mempunyai tingkat
efektivitas yang berbeda-beda, tergantung pada faktor yang mempengaruhi
perilaku pemimpin. Seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya sangat
dipengaruhi oleh faktor, baik yang berasal dari dalam diri pribadinya maupun
faktor yang berasal dari luar individu pemimpin tersebut.
Ada
beberapa
fungsi-fungsi kepemimpinan. Kepemimpinan yang efektif hanya akan terwujud
apabila dijalankan sesuai dengan fungsinya. Fungsi kepemimpinan itu berhubungan
langsung dengan situasi sosial dalam kehidupan kelompok atau organisasi
masing-masing, yang mengisyaratkan bahwa setiap pemimpin berada di dalam dan
bukan di luar situasi itu. Fungsi kepemimpinan merupakan gejala sosial, karena
harus diwujudkan dalam intraksi antar individu di dalam situasi sosial suatu
kelompok atau organisasi karena fungsi kepemimpinan sangat mempengaruhi maju
mundurnya suatu organisasi, tanpa ada penjabaran yang jelas tentang fungsi
pemimpin mustahil pembagian kerja dalam organisasi dapat dapat berjalan dengan
baik.
Sondang
P. Siagian dalam bukunya Teori dan Praktek Kepemimpinan mengatakan beberapa
fungsi kepemimpinan sebagai berikut:
~ Pimpinan sebagai penentu arah dalam usaha
pencapaian tujuan
~ Pemimpin sebagai wakil dan juru bicara
organisasi dalam hubungan dengan pihak-pihak di luar organisasi
~ Pemimpin sebagai komunikator yang efektif
~ Pemimpin sebagai mediator, khususnya dalam
hubungan ke dalam, terutama dalam menangani situasi konflik
~ Pemimpin sebagai integrator yang efektif,
rasional, objektif dan netral (Siagian, 1999)
Fungsi
kepemimpinan menurut Rivai (2002), bahwa kepemimpinan berhubungan langsung
dengan situasi sosial dalam kehidupan kelompok/organisasi masing-masing yang
mengisyaratkan bahwa setiap pemimpin berada di dalam dan bukan di luar situasi
itu. Fungsi kepemimpinan merupakan gejala sosial, karena harus diwujudkan dalam
interaksi antar individu di dalam situasi sosial suatu kelompok/organisasi.
Fungsi
kepemimpinan sendiri dikelompokkan dalam dua dimensi berikut (Rivai, 2002):
Dimensi
yang berkenaan dengan tingkat kemampuan mengarahkan (direction) dalam tindakan
atau aktivitas pemimpin.
Dimensi
yang berkenaan dengan tingkat dukungan (support) atau keterlibatan orang-orang
yang dipimpin dalam melaksanakan tugas-tugas pokok kelompok/organisasi.
Sedangkan
menurut Hamdani Nawawi dalam bukunya Kepemimpinan yang Efektif menyebutkan ada
lima fungsi kepemimpinan. Kelima fungsi kepemimpinan itu adalah:
Fungsi instruktif
Fungsi
ini berlangsung dan bersifat komunikasi satu arah, pemimpin sebagai pengambil
keputusan berfungsi memerintahkan pelaksanaannya pada orang-orang yang
dipimpin. Pemimpin sebaga komunikator merupakan pihak yang menentukan apa (isi
perintah), bagaimana (cara mengerjakan perintah), bilamana (waktu memulai, melaksanakan
dan melaporkan hasilnya), dan dimana (tempat mengerjakan perintah) agar
keputusan dapat diwujudkan secara efektif. Fungsi orang yang dipimpin hanyalah
melaksanakan perintah. Inisiatif tentang segala sesuatu yang ada kaitannya
dengan perintah itu, sepenuhnya merupakan fungsi pemimpin.
Fungsi konsultatif
Fungsi
ini berlangsung dan bersifat komunikasi dua arah. Pada tahap pertama dalam
usaha menetapkan keputusan, fungsi pemimpin sebagai konsultan untuk
mendengarkan pendapat, saran serta pertanyaan
dari bawahannya, mengenai keputusan yang akan diambil oleh pemimpin.
Fungsi partisipasi
Dalam
fungsi ini pemimpin menjalankan serta mengaktifkan orang-orang yang
dipimpinnya, baik dalam keikutsertaan mengambil keputusan maupun dalam
melaksanakannya. Setiap anggota kelompoknya memperoleh kesempatan yang sama
untuk berpartisipasi dalam melaksanakan kegiatan yang dijabarkan dari
tugas-tugas pokok, sesuai dengan posisi atau jabatan masing-masing. Pemimpin
juga tidak hanya ikut dalam proses pembuatan keputusan dalam fungsi ini
pemimpin ikut serta dalam proses pelaksanaannya.
Fungsi
partisipasi ini bukan berarti pemimpin memberikan kebebasan semaunya, tetapi
dilakukan secara terkendali dan terarah berupa kerja sama dengan tidak
mencampuri atau mengambil tugas pokok orang lain.
Fungsi delegasi
Fungsi
ini pemimpin sebagai pemegang wewenang tertinggi harus bersedia dan dapat
mempercayai oran-orang lain, sesuai dengan posisi atau jabatannya, apabila
diberi atau mendapat pelimpahan wewenang.
Fungsi pengendalian
Fungsi
pengendalian bermaksud bahwa kepemimpinan yang sukses dan efektif mampu
mengatur aktivitas anggotanya secara terarah dan dalam koordinasi yang efektif,
sehingga memungkinkan tercapainya tujuan bersama secara maksimal. Sehubungan
dengan itu bahwa fungsi pengendalian dapat diwujudkan melalui kegiatan bimbingan, pengarahan, koordinasi dan
pengawasan.
Dengan
bimbingan dan pengarahan, koordiansi dan pengawasan, pemimpin berusaha mencegah
terjadinya kekeliruan atau kesalahan setiap unit atau perseorangan dalam melaksanakan
volume dan beban kerjanya atau perintah dari pimpinannya. Pengendalian
dilakukan dengan cara mencegah anggota berfikir dan berbuat sesuatu yang
cenderung merugikan kepentingan bersama.
BAB III
ANALISIS
Jadi pemimpin mempunyai peran dan andil sangat penting dalam
suatu organisasi. Seorang pemimpin harus bisa menentukan keputusan dalam suatu
problem. Sorang pemimpin mempunyai kemampuan delegasi, dan pengendalian diri
yang baik, harus tahu bagaimana memposisikan diri. Di dalam jabatan sebagai top
menager atau direksi kita tidak hanya berhadapan dengan problem dan persoalan
secara teknis yang terkadang masih bisa di temukan solusinya namun seorang
pemimpin sudah harus menyelesaikan problem dan menemukan solusi dalam hal
menghadapi karakter manusia yang tidak bisa dilakukan metode penyelesaian
masalah secara biasa dan teknis.
BABIV
REFERENSI